Panduan · Etika
Etika makan sushi: 12 hal yang perlu diketahui
Diperbarui Oktober 2026
Restoran sushi umumnya santai, tetapi beberapa kebiasaan membuat sushi terasa lebih enak dan membuat koki senang.
Makan nigiri
- Sekali suap. Nigiri dibentuk untuk dimakan utuh. Kalau digigit setengah, nasinya hancur.
- Boleh pakai tangan. Makan nigiri dengan jari itu tradisional; sumpit juga boleh. Sashimi dimakan dengan sumpit.
- Celupkan sisi ikannya ke kecap asin, sedikit saja. Nasi menyerap kecap dan jadi berantakan.
- Jangan dicelup lagi kalau sudah diolesi. Kalau koki sudah mengoles nikiri atau tsume, makan saja seperti yang disajikan.
- Wasabi secukupnya. Koki yang baik sudah menaruh wasabi di antara ikan dan nasi. Mencampur wasabi ke kecap lazim di tempat santai, tetapi tidak di konter omakase.
- Jahe di antara suapan. Gari berfungsi menetralkan rasa, bukan topping.
Sumpit
- Jangan menggosok-gosok sumpit sekali pakai; itu terkesan menganggap sumpitnya murahan.
- Jangan menancapkan sumpit tegak di nasi atau mengoper makanan dari sumpit ke sumpit. Keduanya mengingatkan pada upacara pemakaman di Jepang.
- Letakkan sumpit di tatakan sumpit, atau melintang di atas piring kecap, di antara suapan.
Di konter
- Pesan atau bertanya dengan suara biasa, dan hindari parfum menyengat karena bersaing dengan aroma ikan.
- Makan setiap potong segera setelah disajikan, dan minta izin sebelum memotret.
Sushi conveyor belt (kaiten)
- Ambil piring dari conveyor belt dan jangan dikembalikan. Warna piring menunjukkan harga; staf menghitungnya di akhir, atau Anda bisa memesan sushi baru lewat tablet. Cari restoran kaiten dengan filter "Kaiten" di direktori.
Untuk yang mencari halal: tanyakan soal mirin dan sake di restoran tanpa sertifikat. Baru mengenal menu? Lihat jenis-jenis sushi atau panduan omakase pertama.